Undangan digital versus Undangan Konvensional

undangan-online-300x300

Perkembangan di era digital saat ini sangat pesat dan berpengaruh pada perkembangan dan gaya hidup manusia, termasuk diantaranya perubahan kebiasaan dalam membagikan berita yang dulunya bisa dilakukan secara konvensional (bertatap muka langsung maupun surat) sekarang sudah bisa memanfaatkan teknologi. Jarak tidak lagi menjadi masalah ketika teknologi sudah mengambil perannya. Termasuk ketika teknologi dimanfaatkan untuk mengirim undangan pernikahan dengan berbagai media yang disediakan oleh teknologi dan internet.

Postingan ini sebenarnya adalah postingan hasil reportase saya pada Desember tahun lalu, terinspirasi obrolan yang sempat melintas di TL twitter tentang pro dan kontra menyebar undangan pernikahan via online. Ternyata para pengguna aktif teknologi ini sebagian besar masih menyukai cara konvensional dalam hal menyebar undangan, yaitu menerima undangan dalam bentuk undangan, bukan via email, SMS, maupun TAG di Facebook, dan pemberitahuan melalui media online lainnya.

Banyak opini yang muncul terkait pertanyaan yang dilontarkan oleh @Ferdiriva di twitter. Berikut adalah tampilan komentar-komentar seputar undangan digital versus undangan konvensional.

Ferdiriva Hamzah (ferdiriva) di Twitter - Google Chrome_2012-12-11_16-41-482Ferdiriva Hamzah (ferdiriva) di Twitter - Google Chrome_2012-12-11_16-42-44Ferdiriva Hamzah (ferdiriva) di Twitter - Google Chrome_2012-12-11_16-43-24Ferdiriva Hamzah (ferdiriva) di Twitter - Google Chrome_2012-12-11_16-41-01

Kalau saya pribadi termasuk yang pro dengan undangan digital. Bagi saya, tidak masalah teman saya mengirim undangan via tag facebook, email, twit, maupun SMS. Jika keberadaan teknologi bisa mempermudah urusan kita, kenapa tidak dimanfaatkan? Banyak keunggulan ketika kita menyebar undangan secara online dan menggunakan undangan digital.

Lho Yan, kan undangannya jadi gak berasa eksklusif? Bagi saya, cara teman-teman menyampaikan undangannya secara online tetap eksklusif kok karena biasanya sih si teman selalu mengkonfirmasi terlebih dahulu, apakah tidak apa-apa undangan disampaikan via online. Saya selalu menjawab tidak apa-apa. Yang penting informasi penting mengenai acara dapat saya terima sepenuhnya. Informasi disini meliputi jadwal dan tempat diselenggarakannya acara.

Walaupun belum menikah, tapi saya tahu sekali bahwa urusan persiapan pernikahan itu pasti ribet dan menyita waktu dan tenaga calon penganten. Karena itu saya selalu memaklumi jika teman-teman yang berada di kota yang berbeda, mengirimkan undangan pernikahannya via online pada teman-temannya yang lain. Selain praktis, cara ini juga bisa menghemat waktu, tenaga, tentunya juga biaya. Dan ketika saya bertanya pada beberapa teman, sebagian dari mereka yang notabene pengguna teknologi mengaku tidak keberatan jika menerima undangan digital. Tidak semua, ada juga beberapa yang tetap lebih suka menerima undangan konvensional dengan dikirim via pos atau jasa pengiriman lainnya.

Namun, ada yang sepertinya tidak bisa saya tolerir hehhehheee. Belum pernah kejadian sih. Di daerah saya ada tradisi yang namanya “sambatan” yaitu mengundang secara langsung dengan mendatangi rumah tetangga terdekat, jadi tidak perlu undangan. Jika ada teman yang tinggalnya bersebelahan dengan rumah saya tapi mengundang ke acara pernikahannya hanya via tag Facebook, menurut saya yang ini benar-benar tidak niat mengundang. Apakah saya akan datang? jika diberikan kemampuan (mampu dalam hal ini mampu secara waktu, kondisi kesehatan, dan tidak sedang sangat sibuk), insyaallah saya akan datang 😀

Jika nanti ada beberapa teman yang akan menikah mengirim undangan pernikahannya via SMS, telepon, email, tag Facebook, mention di twitter atau cara online lainnya pasti akan saya sambut dengan senang hati :) Perkara nanti datang atau tidak, tentu saja menyesuaikan kondisi. Jika pada tanggal tersebut saya bisa datang, insyaallah 99% saya akan datang. Tetapi jika sedang berhalangan, sahabat-sahabat baik saya itu pasti akan paham :D

8 thoughts on “Undangan digital versus Undangan Konvensional

  1. Iya, aku pribadi juga gak mempermasalahkan soal undangan digital. Kadang cuma lewat SMS, “eh ntar datang ke nikahanku ya! tanggal sekian-sekian” udah cukup 🙂 Esensinya sama aja menurutku.

  2. Kalau saya tergantung acaranya..
    Kalau cuma buka bareng, ulang tahun bisa saya maklumi

    Tapi kalau urusan pernikahan dimata saya itu tidak sopan, sama sekali..
    Karena namanya pernikahan kan hajat yang besar..
    Jika misal tidak mampu mending tidak usah di acarakan secara wah (tutup lawang saja)..
    Jika memang pernikahan mau dirayakan persepsinya ya harus siap dengan konsekuensinya..
    Sebagai orang timur namanya ulem2 atau dhayoh adalah bentuk penghormatan..

Leave a Reply