#TellATale #LasemTrip Rumah Opa & Oma

Lagi-lagi di #TellATale ini saya akan berbagi oleh-oleh dari #LasemTrip kemarin, cerita tentang Rumah Opa Oma πŸ˜€

Ada banyak tempat yang kami kunjungi dan kenali, salah satunya Rumah Opa Oma yang berlokasi di Jl. Karangturi Gang 4 No. 17. Dari luar, tidak ada yang berbeda dari Rumah Opa Oma ini dengan sekitarnya karena wilayah Karangturi merupakan salah satu pusat permukinan Tionghoa di Lasem, sehingga kita akan banyak menemui rumah berarsitektur khas Tionghoa di daerah ini. Uniknya, rumah-rumah ini adalah rumah lama dan ada beberapa diantaranya yang masih bertuliskan huruf kanji Cina pada bagian pintu depan.

???????????????????????????????

Lalu, apa keunikan dari Rumah Opa Oma dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya?

Ada banyak hal yang membuat Rumah Opa Oma ini unik dan menarik, tidak hanya bangunannya yang tetap terjaga kekhasannya tetapi juga cerita didalamnya. Rumah ini berusia kurang lebih 160 tahunan dan dihuni secara turun temurun sejak masa kakek Opa (ket : foto kakeknya Opa bisa kita temui di teras rumah). Rumah ini dihuni oleh 3 orang, Opa, Oma, dan pengasuhnya (ibu Menuk). Awalnya kami mengira bahwa Opa dan Oma ini adalah pasangan suami istri, tetapi ternyata mereka berdua adalah saudara sepupu, dan Β Bu Menuk yang bekerja di rumah mereka adalah tetangga desa saya di Tuban πŸ˜€

Rumah Opa Oma ini sederhana tetapi istimewa. Sebagian besar dinding rumah dan perabotnya masih menggunakan kayu dan berusia tua. Opa orangnya sangat ramah, begitu melihat kami beliau langsung mempersilahkan kami untuk masuk dan melihat-lihat rumahnya.

Setelah melewati pintu depan, kami langsung takjub melihat bangunan Rumah Opa Oma. Beberapa diantara kami langsung membidikkan kamera dan mengabadikan gambarnya dari berbagai sudut.

???????????????????????????????

Ada apa saja di Rumah Opa Oma?Β 

Pada rumah bagian depan kami menjumpai altar, cukup kecil dan sederhana. Altar ini biasa digunakan oleh Opa dan Oma untuk bersembahyang. Menurut cerita dari Pak Yon dan Pak Toro dari Fokmas, dalam setahun Opa dan Oma hanya sekaliΒ duduk dan bersembahyang bersama di altar ini, yaitu pada perayaan tahun baru Imlek. Kesehariannya, Opa lebih sering berada di Β bagian depan rumah sedangkan Oma lebih sering duduk di bagian belakang.

???????????????????????????????

Masuk dari pintu sebelah kanan altar, kita akan menjumpai tempat tidur kayu. Tempat tidur ini sederhana tetapi istimewa karena keunikan bentuknya. Saya jadi ingat tempat tidur mbah putri saya di Bojonegoro.

Pada bagian dapur, kita bisa menjumpai dapur model lama. Ada sumur timba, beberapa gentong tanah liat untuk menampung air, dan juga beberapa rak kayu untuk menaruh peralatan makan dan memasak.

???????????????????????????????

Di dapur ini juga kita bisa berjumpa dengan Oma. Beliau sangat ramah, selalu tersenyum pada kami, dan masih terlihat cantik diusia senjanya. Pasti saat muda dulu, Oma sangat cantik πŸ™‚ Karena keterbatasan pendengaran, Oma tidak bisa berbincang dengan kami. Akhirnya kami lebih banyak bertanya pada Mas Pop tentang Oma.

???????????????????????????????

Selesai di bagian dapur, kami kembali ke bagian depan rumah. Sudah ada Opa yang menunggu kami disana. Saat kami kembali ke teras, beliau sedang duduk di lantai πŸ™ Kami semua duduk melingkar ketika berbincang dengan beliau, dan beliau justru mempersilahkan kami duduk di kursi sedangkan beliau tetap duduk di lantai. Kehangatan sikap Opa membuat kami merasa nyaman ketika berada disana. Opa orangnya cukup terbuka. Beliau bercerita banyak tentang riwayat rumah yang sudah didirikan sejak masa kakeknya dulu. Foto saya dengan Opa masih ada di kameranya Fahmi, kapan-kapan akan saya pasang disini #Eh

???????????????????????????????

Ketika asyik berbincang dengan Opa, tiba-tiba Mas Pop meminta ijin untuk menunjukkan “pusaka” rumah Opa pada kami. Penasaran? Jelas iya dong πŸ˜€ Mengunjungi rumah kuno dengan penghuni yang sudah lanjut usia, tentu saja kami penasaran dengan “pusaka” yang dimaksud.

Inilah “pusaka” yang ada di Rumah Opa Oma. Ya! Beberapa majalah terbitan lama. Majalah-majalah itu terbit bahkan ketika kami semua belum direncanakan hadir oleh orang tua kami.

Dibawah ini adalah salah satu majalah lama koleksi Op. Model diΒ cover majalah ini adalah Titik Puspa πŸ˜€ Waaaahhh, saya baru tahu ini penampilan Titi Puspa saat masih muda.

Isi majalah-majalan lama Opa masih menggunakan Bahasa Indonesia ejaan lama. Dari salah satu majalahnya, saya menemukan artikel Dies Natalis ini. Saya baru tahu kalau di Surabaya dulu ada universitas yang namanya Hanura (sekarang masih ada atau tidak ya?) karena selama ini nama itu lebih saya kenal sebagai nama partai.

???????????????????????????????

Rubrik curhat ternyata juga sudah ada sejak dulu. Butuh waktu beberapa saat untuk mencerna isinya saat membaca tulisan-tulisan yang ada didalamnya.

???????????????????????????????

Penasaran dengan komik jaman dulu? Nah! Di majalah-majalahnya Opa ada komiknya juga, dulu dinamai Tjergam.

???????????????????????????????

Pada majalah-majalah itu kami juga menemui iklan-iklan lama dari produk tertentu. Bukan bermaksud untuk mengiklankan produk, tetapi saya ingin memperlihatkan iklan jaman dulu supaya bisa dibandingkan dengan iklan sekarang. Jauh berbeda ya πŸ˜€

???????????????????????????????

Saat kami berkunjung kesana, Opa tidak bisa berjalan dengan kakinya, beliau bergerak dengan kedua tangannya πŸ™Β Ada rasa haru dan simpatik ketika melihat kondisi Opa. Sempat terlintas pertanyaan “kemana anak-anaknya?”. Dari cerita Pak Yon dan Pak Toro kami akhirnya tahu bahwa Opa dan Oma tidak memiliki anak, dan beliau berdua sama-sama tidak menikah.

Ada cerita tambahan tentang Opa dan Oma yang membuat kami kaget, terharu dan salut pada sikap sederhana dan bersahaja Opa Oma. Apakah cerita tambahan yang disampaikan pada kami? Silahkan datang ke Lasem untuk berkunjung ke Rumah Opa Oma dan mendengar langsung cerita yang sempat membuat kami semua terkaget-kaget πŸ˜€

15 thoughts on “#TellATale #LasemTrip Rumah Opa & Oma

    1. Sengajaaaaa πŸ˜€ hihihihiihi
      Biarkan nanti yang kesana merasakan kekagetan yg kita rasakan kemarin *tsah bangeeett*

      Menua dalam sunyi, menua dalam sahaja :’)
      Kita jadi daftar jadi cucunya Opa Oma? #Eh

  1. Waah aku pingin ke sanaaa πŸ™‚ Ranjangnya masih pake kelambu, sama kayak ranjang datuk dan gedehku dulu. Dan, iklan pepsodentnyaaaa hahaha πŸ˜€

    1. Ayo kesana Yaaaann, penuh kejutan πŸ™‚

      Kmrn pertama liat iklan pepsodennya juga ketawa2 sendiri sebelum memotretnya hihiiihii

    1. Lasem itu asyik banget buat hunting2 foto mas πŸ˜€ Kalo pas ada parade budaya, kesana yuuukkkk *kayak Berlin – Lasem cuma tinggal buka pintu Doraemon*

    1. Hah??? Mau melangkahi aku, Nenny, dan Azizah Mi? πŸ˜€
      ahhahahhaa sepertinya kita semua pengen jadi cucu2nya Oma Opa ya

Leave a Reply