#TawuranKata Minggu Ke-5 : Pantai (sebuah catatan perjalanan, 8 tahun yang lalu)

Pantai … Siapa yang menyukai pantai? *ngitungin jumlah telunjuk yang unjuk jari*

Dulu, saya tidak terlalu menyukai pantai padahal rumah saya berada tidak jauh dari pesisir. Melihat pantai dan laut sudah menjadi keseharian sehingga tidak lagi terasa istimewa, setidaknya itu menurut saya. Jika sedang mengunjungi pantai, saya sering sekali mati gaya kalau tidak membawa kamera, bingung mau ngapain disana. Mungkin satu-satunya alasan yang masuk akal kenapa saya tidak terlalu tertarik dengan pantai adalah karena saya tidak bisa berenang. Kata mbak trinity, saya ini harusnya malu, tinggal di negara yang sebagian besar wilayahnya berupa laut dan rumah yang dekat dengan pantai, masa sih gak bisa renang? iya ya :’)

Tapi ………

Ketika kuliah di Malang, saya dipertemukan dengan teman-teman yang menyenangkan dan mereka hobi sekali jalan-jalan. Pernah suatu ketika, kami setehres berjamaah karena baru saja menyelesaikan tugas studio ditambah harus segera menyiapkan proposal penelitian dan satu lagi, kami sedang sama-sama bokek waktu itu. Kami semua sama-sama butuh refreshing. Akhirnya setelah diskusi singkat beberapa teman, kami memutuskan untuk berakhir minggu di Pulau Sempu 😀

Akhirnya jadilah kami ber-15-an orang berangkat ke Pulau Sempu. Keadaan yang bokek membuat kami sama-sama berhitung mengenai anggaran biaya jalan-jalan ke Sempu, dan jadilah masing-masing kami hanya membayar Rp 10.000,- untuk perjalanan ke Sempu 2 hari 1 malam. Murah kaaaaaaannn?? 😀 *Padahal saat itu, harga seporsi lalapan ayam Rp 4.000,-*

Kok bisa murah? Bisa dong 😀 Teman-teman saya itu selain asyik dan keren, mereka juga jago dalam hal menjaga budget jalan-jalan *sudah ditempa sampe 6 semester sih*. Jadi teknisnya, kami semua berangkat ke Sempu menggunakan motor. Bumbu-bumbu masakan sudah kami siapkan dari rumah Benu (Oh, sebenarnya bumbu-bumbu ini sumbangan dari Benu), minyak tanah, air minum 2 galon, tenda (hasil pinjem, gak pake sewa) juga kami siapkan, dan masing-masing membawa mie instan. Jadi uang iuran kami hanya digunakan untuk mengisi bensin PP, menyewa perahu PP, penitipan motor, dan membeli ikan untuk lauk makan selama di Sempu.

Kami berangkat dari Kota Malang siang dan sampai di Pantai Sendang Biru agak sore … Pertama datang, pantainya terlihat biasa. Yang membuat pantai itu menarik adalah keberadaan Pulau Sempu diseberangnya. Setelah kami mendapatkan tempat penitipan motor dan deal harga sewa perahu, akhirnya kami pun menyeberang ke Pulau Sempu ba’da Magrib.

Awalnya saya kira, begitu menyeberang kami akan bisa langsung mendirikan tenda. Tapi ternyata dugaan saya salah!

Dari dermaga kecil itu, kami masih harus berjalan kaki (tanpa penerangan) melintasi hutan selama satu jam untuk menjangkau kawasan Segoro Anakan. Saya yang bukan pecinta alam mengalami kesulitan menyesuaikan diri pada awal-awal penjelajahan malam kami. Bagaimana gak kesulitan? lha wong sudah tahu mau kemping tetep saja bawanya sendal centil. Untung saja Fian peka, akhirnya dia meminjamkan sandalnya dan menyuruh sandal centil saya disimpan saja *Mbah Blabuk, tengkyyuuuuu*.

Selama satu jam melintasi hutan, beberapa diantara kami membaca ayat kursi sepanjang jalan, apalagi ketika melintasi kawasan yang membuat kami merinding, suara kami melafalkan ayat kursi semakin keras hihihihi. Dan benar, Pulau Sempu ini memang bukan pulau berpenghuni, jadi sepanjang berjalan mengitari pulau, kami tidak menemukan rumah penduduk apalagi penerangan jalan.

Setelah satu jam, kami pun berpapasan dengan satu dua orang yang sedang mencari kayu bakar. Ternyata mereka juga pendatang yang akan menginap di Pulau Sempu malam itu. Keremangan dan keheningan hutan mendadak lenyap ketika kami sampai di Segoro Anakan. Disana sangaaaaatttt ramai. Berasa ada di pasar malam 😀

Karena datang terlambat, kami tidak mendapatkan lokasi yang bagus untuk mendirikan tenda. Untungnya teman-teman sangat cerdik menyiasati dan waspada diri. Mereka membuat tanda batas aman pasang air laut dan suka rela berjaga di depan tenda demi keselamatan kami. Dan malam itu, kami semua berpindah lokasi tenda sebanyak 3 kali! Meskipun badan kami sudah sangat letih, tapi “kemalangan” kami digusur pasang pantai tetap saja disikapi dengan asyik dan penuh tawa. Momen inilah yang sangat berkesan untuk kami, tengah malam angkat-angkat usung-usung  tenda beramai-ramai sampai 3 kali. Dan di lokasi tenda yang terakhir, kami pun bisa beristirahat dan tidur sampai pagi.

Ups! Ada yang kelupaan 😀

Malam itu, kali pertama saya benar-benar bisa menikmati suasana pantai malam hari lengkap dengan deburan ombaknya dan orang-orang yang ada disekitarnya 😀 Kami menghabiskan malam dengan makan malam bersama, berbincang di sekitar api unggun, dan saling meramal didepan tenda. Sebenarnya, sayalah yang berperan jadi dukun mereka waktu itu. Satu per satu teman mengantri untuk dibaca garis tangannya (Semoga kami tidak berdosa yaa Allah). Karena sudah terlalu larut, dan satu persatu kami jatuh tertidur, akhirnya para peserta cewek yang kebetulan hanya 4 orang disuruh tidur didalam tenda.

Paginya, beberapa teman cowok kami sudah heboh membangunkan kami semua. Ya, waktunya sholat Subuh 😀 Kami pun sholat Subuh berjamaah di tepi pantai. Berasa sekali menyatu dengan alam & Sang Penciptanya. Belum banyak kesibukan di sekitar tenda kami pagi itu. Rombongan lain masih pulas tertidur, sepertinya mereka begadang sampai jauh malam. Sambil menunggu matahari terbit, kami pun berbincang sambil bertukar gosip tentunya *teteup*

Begitu matahari terbit, perlahan terlihatlah pemandangan surga Segoro Anakan Pulau Sempu.

Subhanallah … itu pantai terindah yang pernah saya lihat!

Ya, walaupun jumlah pantai yang pernah saya kunjungi memang masih bisa dihitung jari, tetapi pantai ini benar-benar indah! Pasir putih berpadu dengan air laut yang biru kehijauan benar-benar menarik kami untuk menceburkan diri ke Segoro Anakan. Saya pun lupa bahwa saya tidak bisa berenang dan tidak suka berenang. Untunglah Otis dan Pepe berbaik hati mengawal berenang sampai ke tengah segoro anakan.Yay! Akhirnya saya berenang di pantai (atau laut?). Selain berenang, kami semua pun bermain pasir. Satu diantaranya adalah mengubur Benu hidup-hidup. Saat yang lain sibuk mengubur Benu didalam pasir, Chrismas sibuk membuat piramid dari pasir, ujung-ujungnya dia berpose sebagai Spinx, dan kami para cewek sibuk tertawa melihat kelucuan teman-teman kami hahahahaha.

Baru kali itu pantai tidak membuat saya mati gaya 🙂

Hheemmm … selain pantainya yang sangat indah, yang membuat kunjungan ke Pantai Segoro Anakan sangat berkesan adalah teman seperjalanan dan pengalaman kami selama disana. Dan syukurlah, tujuan kami jalan-jalan ke Sempu tercapai. Kami merasa di refresh, dan kembali ke Malang dengan semangat 45 untuk merampungkan tugas-tugas yang lainnya 😀

Selain Sempu, pantai mana lagi ya yang menarik untuk dikunjungi?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Sekedar mengenang, boleh saya numpang memasang foto kami ini? 😀

9 thoughts on “#TawuranKata Minggu Ke-5 : Pantai (sebuah catatan perjalanan, 8 tahun yang lalu)

  1. Mengutip kata-katanya Mbak Windy which aku lupa persisnya : tinggal di negara Indonesia tapi tidak suka pantai, itu rugi… 😀

    I love beach.. hontou ni daisuki. ^__^

    Recommended beach berikutnya : pantai goa cina, pantai bajul mati yang semuanya berlokasi di Malang selatan.
    so, kapan ke Malang ? hihihihi

    oh, satu lagi yang tidak boleh terlewatkan lagi tahun depan (insya Allah)… karimun jawaaaaaaa….. 😀

    1. Karimun Jawa? Semoga bisa tahun ini kesana, kalo bisa sih rame-rame sekeluarga. Biar sekali-kali bapak sama ibuk ngerasain naik perahu di laut, soalnya puluhan tahun ini naik perahunya pas nyeberang Bengawan Solo saja.

      Aku 5 tahun di Malang kok blm pernah denger pantai Goa cina ya mba? *Duh, aku kemana sajaaaaa???*

  2. Padahal selain pantai, di Indonesia yang termasuk Ring of Fire, banyak deretan gunung-gunung. Jadi kalau tinggal di Indonesia, tapi gak pernah naik gunung, rugi 😀

    1. Satu2nya gunung yang berhasil ditaklukkan baru Gunung Bromo :’)

      Yang pengen dikunjungi, Gunung Semeru …. Eh sebenernya Ranu Kumbolonya sih

    2. sama kayak Dian.. satu2nya gunung yang pernah naik sampe puncak adalah Gunung bromo.. Eh gunung tangkuban perahu pernah juga denk… Hmm.. itu ikut keitung gak mas?

      Kalo untuk gunung, aku rada-rada mikir… effortnya itu donk… hahahaha (ngomong aja males.. 😀 )

    1. Heh!!!!! Nggae diitung ik, dan kenapa gak sekalian aja nanya itu aku semester berapa :)) *pentung*
      Yakin gelem tak jak mrono Yan? aku lali dalane lho, hahahhahha 😀

    1. Kalo kata dian (siempunya blog), aku jelajahi hutan lalu berlari ke pantai, dan beberapa saat kemudian nyebur, lalu ………… kelelep *Efek gak bisa renang* 😀

      Kalau soal potensi alam, Indonesia memang juaranya ya? Selain Sempu, pantai2 di sepanjang Pulau Tmor sangaaaaat indah.

      Cumi MzToro, terimakasih sudah mampir kesini 😀 #Salaman

Leave a Reply