Pencitraan Versus Cari Muka

Jadi ceritanya, malam ini saya twit-twitan sama Yayat & Ishak tentang pencitraan tokoh publik yang baru saja diangkat (pasti tahulah yang dimaksud siapa). Lalu, saya pun teringat blog yang ditulis Yoris beberapa waktu lalu ketika dua tokoh ini sedang dilantik menduduki jabatan barunya. Sekali lagi saya sepakat dengan Yoris! (Ah! kapan sih gak sepakat sama Yoris? Seingat saya, selalu sepakat)

Berikut cuplikan postingan blog Yoris ini:

Menurut saya Jo**wi merupakan salah satu contoh pencitraan yang baik dan dilakukan dari dulu secara konsisten.  Menurut saya tidak ada yang salah dengan pencitraan, yang jelek itu “Carmuk” alias cari muka.  Mereka yang terlalu fokus dengan seremonial tanpa ada makna lagi.  Mereka yang tidak konsisten di depan media dan di belakang media.

Ketika ada yang menganggap bahwa kinerja mereka yang baik sebagai bentuk pencitraan, ya sudah tidak apa-apa. Yang penting mereka menunjukkan kinerjanya melalui tindakan nyata dan berhasil membawa perubahan menjadi lebih baik.

Walaupun bukan warga Jekardah, tetapi saya selalu antusias mengikuti aktivitas, program-program, serta langkah yang diambil untuk mengatasi permasalahan wilayahnya. Semoga 5 tahun ini, bisa membawa pada perubahan besar ke arah yang lebih baik tentunya. Semoga 😀

5 thoughts on “Pencitraan Versus Cari Muka

  1. Setuju … Yang penting ada tindakan nyata, masalah pencitraan, saya menikmatinya sebagai “bentuk hiburan lain” diantara hiburan-hiburan lain (hiburan dagelan politik).
    Bicara mengenai pencitraan, dulu Ali Sadikin juga semodel dgn Jo**wi, tapi koq gak dibilang pencitraan ya? Padahal ada wartawan-wartawan juga

    1. “bentuk hiburan lain” karena berita tentang mereka selalu menarik untuk diikuti ya? 😀 …

      Jangan2 pas jaman pak Ali Sadikin, kata “PENCITRAAN” belum masuk KBBI, jadi enggak dipakai untuk menggambarkan sepakterjang sbg gubernur Jekardah

  2. Selama tindakan yang dilakukan si Bapak ini positif dan tidak merugikan banyak orang ya aku pikir sah2 aja. mau itu bentuk pencitraan atau cari muka, semua tergantung pada hasilnya nanti. masyarakat kan menginginkan hasil yang nyata dan ada perubahan yang lebih baik atas kondisi yang ada sekarang ini. ya meski itu susah juga dicapai mengingat kekompleksan masalah yang ada di Ibukota. Dan harusnya, para stakeholder itu saling bekerja sama. bukan hanya sekedar mengomentari tindakan si Bapak saja.

    IMO, yang komen itu indah tau siapa orangnya, dan emang dia (kemaren) bukan pendukung si Bapak sih. hohohohohoho.

    1. Masalah pencitraan atau bukan, itu kan tergantung cara pandang siapa yg memandang (ohiya, kadang2 niat si terpandang juga sih hihihiihi). Aku ngelihatnya, di masa jabatan yg masih seumur jagung, mereka sudah berhasil berbenah. Kalau untuk memperbaiki keseluruhan permasalahan ibukota, tentu saja perlu waktu untuk itu.

      Tahu siapa yg berkomentar semalam? pasti twit dia muncul di TLmu ya? 😀

Leave a Reply