My Journey with The Journeys

Sebenarnya ini postingan review saya tahun 2011 lalu, tapi pengen dipindah kesini. Tidak apa-apa yaaaaa 😀

********************

Buku ini salah satu buku “ajaib” yang bisa membuat saya penasaran dan selalu menyempatkan membacanya, baik ketika di rumah, di bus, di kampus, di Cafe Red, dan juga di kosan Dewi.

Saya tidak sabar menikmati petualangan-petualangan para penulis didalamnya dan pada penghujung buku saya pun berkomentar “Yaaaahh?? kok sudah habis sih?”

 

 The Journeys merupakan buku yang ditulis berjamaah oleh Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanti, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Raditya Dhika, Trinity Traveller, Valliant Budi, dan beberapa penulis lainnya.

Penulis – penulis tersebut memiliki berbagai latar belakang yang berbeda sehingga “cita rasa” petualangan yang tertuang di buku ini pun memiliki keunikannya masing-masing.

Setiap membaca buku, selain Judul buku, hal pertama yang saya baca adalah PRAKATA untuk mengetahui gambaran mengenai isi buku. Berikut adalah sebagian isi prakata The Journeys yang sangat saya suka ^_^ :

Hal paling menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan.

Pada perjalanan-perjalanan panjang itu, dan mungkin juga singkat, kita hanya berharap menemukan. Menemukan sesuatu untuk dibawa pulang. Mungkin juga untuk dikenang lalu diceritakan.

Dari gerbong kereta api, dari sebuah ruang tunggu bandara, dari atas bus yang berderit diatas jalanan berdebu, dari biru laut, dari tapal batas yang coba dilintasi, dan dari keriaan sebuah pasar, kita diam-diam berharap menemukan sesuatu itu.

Menemukan apa saja. Mulai dari yang penting, kurang penting, bahkan tidak penting sama sekali. Kadang, apa yang kita temukan di tengah perjalanan justru diluar dugaan. Mengejutkan kita. Membuat kita merasa seolah menemukan harta karun. Tak jarang juga kita justru tidak menemukan apa yang ingin kita temukan. Bahkan, bisa saja, kita menganggap tidak menemukan apa-apa. Tapi tidak menemukan apa-apa pun adalah menemukan, bukan?

Di akhir sebuah perjalanan, kita tahu, kita telah menemukan sesuatu. Sebuah cerita.

The Journeys terdiri dari 12 cerita dari 12 penulis yang berbeda. Diantara kedua belas cerita tersebut, ada beberapa yang membuat saya “jatuh cinta”, baik pada ceritanya maupun penulisnya *Eh? yang terakhir jangan dipercaya*

Ada 3 cerita yang menjadi favorit saya di buku ini. Diluar espektasi saya, selama perjalanan membaca The Journeys, justru nama Trinity dan Raditya Dhika tidak tercantum didalam 3 berikut:

  • Lucerne : A Morning Kiss Bye from A Stranger – Oleh : Windy Ariestanty =>> Saya terkesan dengan bagaimana Windy bercerita tentang pertemuan-pertemuannya dengan orang baru selama berpetualang di Lucerne. Bagaimana sebuah informasi yang keliru bisa membawa Windy pada pagi paling menyenangkan selama perjalanannya berkeliling benua Eropa. Pertemuannya dengan beberapa orang asing, khususnya si kakek penjual buah sangat berkesan untuk saya, sebagai pembaca. Karena terkesan dengan tulisannya, akhirnya saya pun berencana membeli bukunya Windy yang Life Travelers *Khilaf detected*
  • Parfum Impian – Oleh : Valiant Budi =>> Tulisan Vabyo mengenai PARFUM IMPIAN benar-benar kocak dan berhasil membuat saya tertawa berkali-kali selama membacanya. Doa pertama yang dia panjatkan karena telah melakukan kebohongan pertama (dengan sengaja) di tanah suci telah berhasil “mencuri hati” saya sebagai pembaca. Memang ada alasan yang melatar belakangi kebohongan tersebut. Alasan yang akan membuat kita berpetualang bersama Vabyo di sudut lain tanah suci. Cerita “perjuangan” Vabyo memotret beberapa gedung dengan cara pura-pura menelpon dan hasil foto yang miring semua juga tidak luput dari unsur jenaka (dan iya, berhasil membuat saya tertawa lagi). Percakapan Vabyo dengan bapak penjual roti (yang dia harap, semoga bapak itu benar-benar malaikat) mengenai KEYAKINAN berhasil memberi nilai tambah pada tulisan ini, dan tidak hanya kocak tetapi juga “makjlebb” dihati. Sama seperti sebelumnya, setelah membaca tulisan ini, saya pun berniat membeli buku Vabyo yang lain *Another Khilaf detected*
  • Karimun Jawa – Surga Indonesia – Oleh : Alexander Thian => Ini dia, the most favourite journey in this book ^___^  Saya sukkkaaaaaa cerita ini !!! Saya benar-benar bisa memperoleh gambaran secara sempurna (sampe terbayang-bayang malah) dari petualangan aMrazing di KArimun Jawa. Kenapa? karena cerita ini saya banget (komentar ini sifatnya subyektif ya?). Sudah dari awal sama bangeeett, bagian tengah seru & lucu bangeeeett, bagian akhir ngena bangeeeetttt. Tulisan ini membuat saya berkaca, merasa, dan juga tertawa. Cara aMrazing bercerita juga enak untuk dibaca dan bisa membawa pembaca merasakan petualang-petualangannya sambil tertawa diatas penderitaannya *eh?* Dan saya pun (pernah) merasakan akhir perjalanan yang dirasakan oleh aMrazing sepulang dari Karimun Jawa. Membaca cerita serta melihat foto-foto didalamnya, saya semakin “kemecer” pengen ke Karimun Jawa *Colek2 mba Nana & mba Maya*. Selesai membaca tulisan yang disini, saya tidak menambah daftar khilaf, tetapi langsung meluncur ke blog milik aMrazing yang (sekali lagi) membuat saya tertawa dan lupa tidur hohohohhoo. Penasaran dengan cerita yang satu ini? Baca aja sendiri yah? Ituh, buku saya sudah rapi tertata di rak, dan siap dipinjamkan ^_^

Sepanjang berpetualang bersama The Journeys, tanpa sadar saya menjadi lebih periang dari sebelumnya. Kok bisa? iya lah, lha wong sedikit-sedikit “diajak” tertawa, minimal senyum deh.

Dan sebagai penutup tulisan ini, saya setor BINTANG 5 !!!

2 thoughts on “My Journey with The Journeys

  1. Aku suka cerita Ferdiriva yang ke Amrik sama papa mertuanya, hehe. Tulisan Vabyo juga keren. Udah baca Kedai 1001 Mimpi? Salah satu buku terbaik yang pernah aku baca tuh 😉

    1. Wah! iya .. itu juga seru Oom 😀 Apalagi yang akhirnya bisa berwisata religi berkat kuntilanak hihihiihihi

      Gara2 baca The Journeys dan suka dengan (tulisannya) Vabyo, akhirnya jadi beli Kedai 1001 Mimpi. Bagus sekaligus bikin syok ya

Leave a Reply